Saturday, September 18, 2010

Renungan Pernikahan


Tidak ada yang salah manakala seorang muslimah merindukan cinta dan kasih sayang dari seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Setiap insan termasuk seorang muslimah pun berhak dan lumrah untuk merasakan kerinduan semacam itu. Meskipun tak terungkap secara lisan, penantian dan impian untuk menggapai sebuah mahligai pernikahan adalah puncak gelisah dan kerinduan yang merupakan salah satu bentuk ujian seorang gadis muslim.



Ibarat sekuntum bunga yang sedang mekar atau bahkan telah mekar dan matang dalam waktu yang sudah cukup lama, adanya kecenderungan untuk disentuh oleh si kumbang jantan yang menawan dan memberikan sari madunya adalah adalah salah satu fitrah yang lumrah dirasakan oleh dirasakan oleh seorang gadis. Sayangnya, saat ini banyak sekali dan semakin banyak kumbang-kumbang jantan yang hanya mengobral rayuan gombal, kata-kata picisan, hanya menggoda, bahkan hanya ingin menghisap sari madu dari sang gadis saja, setelah dapat ia terbang dan menghilang entah kemana. Sedikit sekali kumbang-kumbang jantan yang bersedia berjuang untuk membawa sang gadis dengan jalan yang diridhoi oleh Allah swt, yaitu sebuah jalan pernikahan.



Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci, maka sudah sepatutnyalah setiap langkah untuk mencapainya pun harus dilakukan dengan cara yang suci. Manakala seorang gadis telah merasakan kerinduan akan seorang pendamping hidup, artinya secara sadar maupun tidak ia telah melangkahkan kakinya pada salah satu jalan yang akan menghantarkan pikiran dan hatinya pada sebuah mahligai pernikahan. Untuk itu, hendaknya ia senantiasa berjaga dengan kuat dan berhati-hati dalam setiap langkah. Jangan sampai ada noda yang tercecer dan mengotori jalan yang suci ini hingga tiba saat yang dinanti-nanti, yaitu ketika Allah meridhoi dan mewujudkan sebuah pernikahan indah dan suci yang selama ini didambakan.

Memang, penantian tidaklah membutuhkan tenaga yang ekstra besar. Namun, sebagian besar manusia pun mengakui bahwa penantian adalah salah satu pekerjaan yang sangat melelahkan. Terlebih lagi penantian untuk sebuah pernikahan, ini merupakan sebuah penantian besar yang sangat melelahkan. Karena, dalam penantian inilah syaithon-syaithon dalam bentuk nafsu dan syahwat senantiasa menghampiri. Manakala seorang gadis tengah berada dalam lelahnya sebuah penantian, maka pada saat itulah syaithon-syaithon sedang menatapnya sebagai sebuah sarapan pagi yang lezat dan siap untuk disantap. Oleh karena itu, seorang muslimah hendaknya benar-benar mengerti hal-hal yang sebaiknya ia lakukan dalam masa penantiannya. Dengan demikian, penantiannya untuk sebuah pernikahan yang indah dan suci tidak akan sia-sia, dan Allah akan memberikannya seorang pendamping Robbani dalam pernikahan yang telah menjadi impian.



Pernikahan adalah awal dari sebuah kehidupan dan perjalanan hidup yang baru. Idealnya, perjalanan panjang hendaknya disertai dengan bekal yang benar dan cukup. Demikian pula dengan pernikahan, membutuhkan bekal yang tidak sedikit dan sembarangan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang sepatutnya dilakukan dan diistiqomahkan oleh seorang muslimah dalam penantiannya untuk menuju sebuah pernikahan yang diridhoi oleh Allah swt. Langkah-langkah inilah yang insya Allah akan menjadi bekal untuk berlayar di atas lautan dan gelombang kehidupan dengan ombak dan badai yang selalu mengintai. Langkah-langkah inilah yang akan menjadi kompas dan bahan bakar untuk perahu pernikahan.



1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah

Menantikan seorang lelaki sholih yang akan meminang dan menyandingnya dalam sakralnya pernikahan memang akan memancing datangnya berbagai bentuk godaan. Untuk itulah, seorang muslimah hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya (baik ibadah fardhu maupun sunnah) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Insya Allah, dengan peningkatan ibadah ini Allah akan memberikan kekuatan dan pertolongannya untuk menghadapi godaan-godaan yang mencoba untuk menggoyahkan dan memikatnya.



2. Istiqomah dalam doa dan tawakal

Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi maupun yang tidak terjadi adalah hanya atas kehendak Allah swt semata. Rizki, maut, dan juga jodoh, itu semua berada dalam genggaman Allah swt, tidak akan ada yang mampu merubahnya kecuali Dia. Dan sebagai manusia, yang diwajibkan hanyalah berusaha dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Kemudian bertakwakallah kepada-Nya, serahkan dan percayakan segala keputusan final hanya kepada-Nya. Janganlah pesimis dan berburuk sangka kepada Allah, karena Allah akan mengikuti persangkaan hamba-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh: 153)

Istiqomahlah dalam berdoa agar diberikan pendamping hidup yang sholeh, dan dikaruniakan sebuah pernikahan yang barokah sehingga membawa kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yakinlah bahwa Allah lebih mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan yakinlah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.



3. Mempersiapkan diri

Meskipun dinanti-nanti, namun pernikahan bukanlah hal sepele yang dapat dicapai dan dijalani dengan sembarangan atau asal mau saja. Ketika seorang wanita telah memasuki pintu pernikahan, maka secara otomatis kewajibannya pun telah bertambah (demikian pula halnya dengan laki-laki). Maka dari itu, hendaknya seorang muslimah senantiasa mempersiapkan dirinya sebelum seorang pangerang yang diutus oleh Allah swt datang untuk menjemput dan membawanya menuju istana pernikahan yang sakral.



Teruslah membekali diri dengan ilmu, khususnya ilmu agama, dan terutama ilmu agama yang berkaitan dengan masalah kerumah tanggaan. Selain itu, seorang muslimah juga harus membekali dirinya dengan keterampilan berumah tangga. Dan bekal yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang isteri sholihah yang taat dan senantiasa menyenangkan hati suami.



Saudariku, pernikahan adalah dambaan bagi setiap insan, tidak terkecuali seorang muslimah. Dan menunggu pangeran sholih yang akan menjemputnya menuju mahligai pernikahan yang sakral, bukanlah perjuangan yang ringan. Gelisah, gundah, tanda tanya, harap, cemas, semua membaur menjadi satu. Namun, sekali lagi pernikahan bukanlah ikatan yang dapat dijalin dengan “mau” saja. Untuk menuju pernikahan yang barokah, dibutuhkan bekal-bekal yang benar dan cukup. Jangan sampai kita kehabisan bahan bakar ataupun perbekalan ketikan sedang menyelami lautan pernikahan. Terlebih lagi menyelami lautan pernikahan tanpa membawa bekal, anda akan kelaparan dan kehausan. Jangan sampai anda melupakan peta dan kompas manakala hendak menjelajahi belantara pernikahan.



Saudariku, rindukanlah sebuah pernikahan sakinah, mawaddah, warrohmah. Rindukanlah seorang pendamping hidup yang akan membawa ikatan pernikahan mulia di dunia dan akhirat. Dan tidaklah sebuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, melainkan dengan kita memperjuangkannya di jalan yang diridhoi oleh Allah, melainkan kita masuki pintu pernikahan tersebut dengan menyebut asma Allah. Dan tidaklah senuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, kecuali kita menjalankannya dengan bekal yang cukup, dengan bekal yang benar. Allah, adalah pangkal tolak dan arah melangkah kita dalam menanti dan mengemudikan sebuah pernikahan.



Pernikahan yang barokah adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Hanya pernikahan yang barokahlah yang akan memberikan kebagiaan dunia dan akhirat. Pernikahan dibawah naungan islam, pernikahan dibawah naungan Allah adalah pernikahan yang menjadi dambaan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tiga langkah di atas merupakan secuil ikhtiar yang jika direalisasikan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan keistiqomahan, insya Allah akan menjaga diri kita dari godaan-godaan yang menerpa manakala berada disebuah jalan menuju pernikahan. Dan insya Allah akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengaruhi bahtera pernikahan kelak.

Tuesday, September 14, 2010

HARTA TERMAHAL

Tak terasa, hari ini telah memasuki hari keenam bulan Syawal. Artinya, kita telah berada di penghujung suasana lebaran. Akankah kita bertemu lebaran tahun depan?

Menurut saya, harta tak ternilai yang dimiliki manusia bukanlah emas dan permata. Bukan pula deposito dan perusahaan. Dan bukan tumpukan uang dan rumah megah. Pada suatu saat, semua harta nan kasat mata itu akan ditinggalkan pemiliknya. Tak satupun harta itu dibawa ke liang lahat.

Sesungguhnya, harta paling berharga adalah masa atau waktu. Harta itu selalu dicari-cari. Berapapun harganya selalu dibayar. Cobalah sekali waktu kita pergi ke rumah sakit. Begitu banyak orang tergeletak di sana. Apa yang mereka cari? Kesembuhan. Untuk apa kesembuhan? Menikmati hidup. Bagaimana cara menikmati hidup? Ya tentu dia harus hidup alias bernafas.

Setiap detik, umur atau usia kita bertambah. Umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan (KBBI, 2008:1526). Batasan umur merupakan hak mutlak Tuhan. Artinya, Tuhan menjadi pemilik umur itu. Jika sewaktu-waktu Tuhan memintanya, kita harus memberikannya. Maka, demi waktu telah diucapkan Tuhan hingga empat kali (semoga tidak salah): demi waktu, demi waktu dhuha, demi waktu fajar, dan demi waktu malam.

Sumpah Tuhan atas waktu di atas merupakan indikator bahwa manusia memang sering menyia-nyiakan waktu. Manusia sering menggunakan waktu dengan sesuatu yang tidak berguna dan bermanfaat baginya dan orang lain. Terlebih bagi manusia muda. Mereka seakan berkeyakinan kuat bahwa umurnya masih panjang atau lama.

Kita harus belajar kepada lingkungan. Cobalah kita saksikan buah kelapa. Ketika masih bunga, ia – bunga itu – jatuh, kita menganggapnya gejala alam dan wajar. Ketika masih sekepal (di kampungku disebut bluluk) dan jatuh, kita menganggapnya wajar dan alami. Ketika menjadi degan atau kepala muda dan jatuh, kita masih menganggapnya wajar dan alami. Bahkan, kita menganggapnya masih wajar dan alami ketika buah kelapa itu sudah tua dan terpaksa tidak jatuh karena terjepit pelepah kelapa.

Manusia pun demikian. Ada ”calon” bayi dan keguguran itu merupakan gejala alam. Ada bayi atau remaja meninggal, itu adalah wajar. Ada orang yang berusia seperti kita dan mati, kita menganggapnya wajar. Namun, ada orang tua renta yang justru tidak segera meninggal, kita pun menganggapnya wajar meskipun kita kadang berharap agar dia segera meninggal.

Kita telah mengetahui bahwa mati adalah bagian dari rahasia kehidupan. Mati akan datang dan menghampiri kita setiap saat dan waktu. Hari ini kita bisa bekerja dan tertawa. Namun, bisa jadi hari ini adalah hari terakhir kita bekerja dan bisa tertawa. Mati dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan bagaimana pun caranya.

Ramadhan telah berlalu. Kini kita disibukkan kembali dengan rutinitas. Kesibukan bekerja sering membuat kita lupa diri, lupa waktu, lupa Tuhan, dan lupa mati. Cobalah sekali waktu kita bertanya, masihkah Tuhan berkenan untuk memperjumpakan kita dengan Ramadhan tahun depan? Tak seorang pun berani menjawab pertanyaan ini. Oleh karena itu, marilah kita meminta kepada Tuhan agar berkenan mempertemukan Ramadhan tahun depan kepada kita.

Ya Allah, maafkan segala kesalahan hamba. Ampunilah segala dosa karena kesombongan diri hamba. Engkaulah pemilik maaf dan ampunan. Kiranya Engkau berkenan, hamba meminta agar Engkau berkenan memanjangkan umurku. Hamba rindu Ramadhan. Namun, hamba takut dan takut sekali. Masihkah Engkau mempertemukanku dengan Ramadhan? Saya bermohon ya Tuhan, berikanlah kesempatan kepadaku untuk berbenah. Saya ingin menjadi hamba-Mu yang baik. Tegurlah hamba-Mu dengan teguran yang santun. Janganlah Engkau biarkan hambaku keluar dari jalan-Mu. Hamba takut dan teramat takut, jangan-jangan lebaran kemarin adalah lebaran terakhir bagi hamba. Hamba percaya bahwa Engkau Maha Mendengar. Maka, kabulkanlah permohonan hamba ini Amin. Selamat pagi, selamat melanjutkan aktivitas, dan semoga bermanfaat. Amin.