Showing posts with label Ramadhan 1429 H. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan 1429 H. Show all posts

Wednesday, July 28, 2010

Bergembiralah Ramadhan Segera Tiba....!!


Nabi mengibaratkan Ramadhan laksana sajian atau jamuan ilahi. Umat Islam adalah tamu istimewa yang akan menyantap sajian itu

SEBUAH short message service (SMS) masuk ke layar HP. Pesan pendek itu berbunyi, “Marhaban ya syahral Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Mari kita siapkan fisik dan hati untuk menyambut kedatangannya.” Demikian pesan pendek dari seorang teman lama. Pendek tapi penuh makna.

Selain SMS tadi, ada puluhan SMS sejenis lainnya dengan redaksi yang berbeda. Tapi, intinya sama; mengingatkan jika Ramadhan akan segera tiba. Berkirim SMS adalah tren baru di era modern seperti sekarang. Di mana jarak dan ruang tidak jadi kendala. Tanpa harus merogoh kocek dalam, dengan alat canggih ini, kita bisa mengirim pesan ke saudara, teman, atau pun kolega atas datangnya bulan suci Ramadhan. Saya kira, siapapun dia, jika mendapat SMS tersebut pasti gembira. Karenanya, coba saja lakukan hal sederhana ini. Tak ada salahnya bukan?

Jika ditanya, bagaimana perasaan Anda jika Ramadhan datang menghampiri Anda? Senang, pasti itulah jawabannya. Betapa tidak? Di bulan yang dinanti jutaan umat Islam di seluruh dunia ini, terkandung banyak keutamaan dan kemuliaan. Tak heran jika Nabi Muhammad SAW mengatakan bulan ini termasuk bulan terbaik dari bulan-bulan lainnya. Apalagi, di dalamnya ada satu malam (Lailatul Qadr), sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Karena itu, tak heran, jika setiap orang di seluruh dunia berbahagia menyambut kedatangannya. Mereka akan berburu pahala dengan berlomba-lomba dalam kebaikan dan ibadah. Lihat saja, setiap malam, masjid selalu penuh oleh jamaah tarawih, tilawah al-Quran membahana di surau dan masjid-masjid hampir di seluruh penjuru dunia, umat Islam berlomba mengeluarkan ta’jil dan buka puasa. Fenomena inilah yang tak dijumpai selain di bulan Ramadhan. Tak salah, jika Ramadhan memang bulan penuh rahmah (kasih sayang). Subhanallah.

Bulan Ramadhan ibarat oase, penyejuk di tengah gersangnya kehidupan. Sebelas bulan lamanya kita merasa larut oleh hiruk pikuk rutinitas duniawi. Pergi pagi pulang sore untuk mencari rezeki. Ibadah terkadang dilakukan hanya yang wajib. Tak pelak, raga pun jadi letih. Begitu juga spiritual, kering kerontang. Jika ini tidak diobati, bisa jadi lambat laun akan rusak bahkan mati. Nah, Ramadhan datang sebagai oase. Kehadirannya penghapus dahaga sekaligus penyejuk. Yang sakit pun akan terobati. Sesuai kata Nabi, barang siapa yang puasa, maka akan sehat (shuumu tasihhu).

Bulan Ramadhan juga kaya akan bonus. Beda dengan bulan-bulan lainnya. Allah SWT betul-betul memanjakan hamba-Nya. Di bulan itu pahala dilipatgandakan. Karena itu, satu biji kurma kita sedekahkan, akan bernilai pahala yang sangat besar. Bahkan bisa jadi wasilan atau jalan masuk surga. Belum lagi misalnya dengan pahala amal saleh lainnya, seperti sedekah, shalat, tilawah al-Quran, qiyamul lail (shalat malam), dan ibadah lainnya. Maka, barangsiapa yang mengerjakannya, niscaya panen pahala. Siapapun dijamin bakal terpikat oleh Ramadhan. Karena itu, bergembiralah.

Terkait hal itu, Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, Nabi Muhammad SAW berkata pada para sahabat ketika Ramadhan akan tiba. "Sesungguhnya telah datang kepada kalian "Bulan Allah" yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah, yaitu bulan yang di sisi Allah lebih mulia dari bulan-bulan lainnya. Hari-harinya pun lebih utama dari pada hari-hari (di bulan) lainnya. Malam-malamnya lebih mulia dari malam-malam biasa. Detik-detiknya pun lebih utama dari detik-detik di bulan lainnya.”

Nabi pun mengibaratkan Ramadhan laksana sajian atau jamuan ilahi. Dan, umat Islam adalah tamu istimewa yang akan menyantap sajian itu. Ketika itu, nafas orang berpuasa ibarat tasbih, tidurnya laksana ibadah, doa-doa yang dipanjatkan akan terkabul. Subhanallah, betapa agungnya bulan Ramadhan.

Andai seluruh bulan adalah Ramadhan, betapa banyaknya pahala yang dapat. Karena itu, tak heran jika nabi Muhammad bersabda: “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, tentu mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah bulan Ramadhan.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda dalam hadist yang diriwayatkan Nasa’i dan Baihaki. “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu, maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).”

Hadist ini, oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dijadikan dalil untuk memberikan ucapan selamat datang Ramadhan yang biasa dilakukan umat Islam. Ia mengatakan, tak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak bergembira dengan datangnya bulan suci. Pasalnya, di bulan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, dan disediakannya malam lailatul qadr.

Tidak dipungkiri lagi, bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Karena itu, momen itu sangatlah berharga. Terlebih, Allah SWT masih memberi kesempatan umur untuk bersua lagi dengannya. Sebab, ada banyak orang lain, yang dulu berjumpa, tapi kini telah pergi. Karena itu, mari kita siapkan diri kita, baik hati dan fisik untuk menyongsong datangnya tamu Allah itu.

Sejak sekarang, memperbanyak amal saleh dan menjauhi larangannya. Jangan sampai, bulan itu datang, tapi diri kita penuh noda dan dosa. Akan lebih eloknya, jika ia datang, kita sambut dengan penuh suka cita dan bersih dari segala dosa. Sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan khidmat. Insya Allah. Amin.

Sunday, September 28, 2008

" Menghargai Waktu "

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. Q.S. al-‘Ashr: 1-3.

Dalam sebuah polling di Amerika diketahui ternyata mayoritas bangsa Amerika merasa bahwa tidak bekerja, menganggur, dan hidup santai, adalah bagian yang dibenci dan bahkan mereka merasa itu adalah suatu dosa. Dalam istilah terkenal dalam bahasa Inggris pun kita kenal dengan the time is money, sebuah ungkapan betapa pentingnya memanfaatkan waktu hingga dapat menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.

Dalam Islam tujuan hidup bukan sekadar mencari uang (baca: mencari kebahagiaan materi), namun lebih dari itu agar dapat mendapatkan kebahagiaan materi dan ruhani, duniawi dan ukhrawi (fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah). Oleh karena itu Islam sangat menghargai waktu agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka mendapatkan dua tujuan sekaligus. Bila hanya ingin mendapatkan satu tujuan saja kita tidak dapat bersikap santai dalam hidup, apalagi bila hendak meraih kedua tujuan di atas.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Jadilah kamu di dunia seperti seorang asing atau seperti orang yang melewati suatu jalan. Kalau kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi. Dan kalau kamu berada pada waktu pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Pergunakanlah masa sehatmu guna persiapan waktu sakit, dan pergunakanlah masa hidupmu untuk persiapan waktu matimu. H.R. al-Bukhari.

Yang sering terjadi pada kita justru sebaliknya. Di saat sehat, kita lupa bahwa suatu ketika akan sakit. Ketika masih muda, kita lalai bahwa nanti akan menjadi tua. Ketika kaya, kita lupa bahwa mungkin akan bangkrut dan jatuh miskin. Ketika berkuasa, kita lupa bahwa kekuasaan itu sementara. Ketika tertawa, kita lupa suatu saat akan menangis. Ketika hidup, kita lupa pada akhirnya pasti mati. Kita kemudian lupa untuk bersyukur, mendekatkan diri kepada Allah, beribadah sebanyak-banyaknya, lupa menolong orang lain, lupa untuk membela agama Allah, dan lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Kita lebih senang menghambur-hamburkan waktu untuk menuruti hawa nafsu, sebagaimana kita pun sering terlena dibuai waktu dalam kegemerlapan duniawi. Waktu kita habis terbuang sia-sia, hanya untuk melakukan hal-hal remeh dan menuju kepada kemaksiatan.

Sebuah pepatah Arab mengatakan: “Waktu ibarat pedang, kalau ia tidak kamu pergunakan sebaik-baiknya, maka ia dapat memenggal dirimu”. Karena lengah dalam memanfaatkan waktu, kita kehilangan kesempatan emas. Kita sering gagal karena tidak dapat mengatur waktu dengan baik. Kita dipenggal oleh waktu karena lengah memanfaatkannya.

Kita harus membiasakan memahami betapa berharganya waktu. Betapa sukses dan gagal ditentukan oleh kemampuan kita dalam menggunakan waktu. Dan betapa sikap meremehkan waktu sebagai sikap hina yang tidak disukai oleh semua orang beriman.


*)Di tulis Oleh Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar

Friday, September 26, 2008

JALUR-JALUR INFAQ

Terdorong rasa ingin memberi dan berbagi kepada sesama, seorang sahabat Rasul Saw bernama Amr bin Al Jamuh yang berumur cukup tua bertanya, “Wahai Rasul, aku punya sejumlah harta, bagaimana cara aku mensedekahkannya dan kepada siapa aku infakkan?”
Sejurus Rasulullah Saw berpikir. Beliau belum dapat ide demi menjawab pertanyaan ini.

Sesaat kemudian datanglah firman Allah Swt yang mengabarkan tentang jalur-jalur infak sunnah dalam ayat berikut:

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah:"Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. 2:215)

Itulah sekelumit asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat di atas yang dinukil dari Tafsir Al Qurthubi. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa jalur infak sunnah yang utama adalah sebagaima tertera dalam ayat itu; yaitu orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Kelima golongan ini mendapat skala prioritas untuk diberi infak sunnah.

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, datanglah seorang pemuda yang mengadu kepada beliau tentang ayahnya yang suka mencuri harta milik sang anak.Rasul Saw berujar, “Panggillah ayahmu untuk menghadapku!” Sang pemuda menuruti perintah Rasul Saw. Ia pergi ke rumah meninggalkan beliau demi memanggil sang ayah untuk datang menghadap Rasul.

Saat pemuda pergi untuk memanggil ayahnya, maka datanglah Jibril As menghampiri Rasulullah Saw. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, bila ayah pemuda itu datang maka tanyakanlah padanya apa yang telah ia ucapkan dalam hati dan tidak terdengar oleh kedua telinganya!”

Beberapa saat kemudian, sang pemuda sungguh datang menghadap Rasulullah sambil membawa ayahnya. Sesampainya dihadapan Rasulullah Saw, beliau bertanya kepada ayah pemuda tadi, “Wahai bapak, anakmu mengadu bahwa engkau telah mencuri hartanya, apakah ini benar?” Maka sang ayah menjawab, “Ya Rasul, silakan tanya kepadanya telah aku apakan uangnya, apakah aku berikan kepada bibinya atau aku makan sendiri?”

Rasulullah Saw lalu menukas, “Izinkan aku untuk tidak membahas hal ini. Namun bolehkah aku tahu apa yang telah kau ucapkan dalam hati dan tidak terdengar oleh kedua telingamu?” Itulah pertanyaan yang disampaikan Jibril As kepada Rasulullah Saw untuk ditanyakan kepada ayah dari pemuda tadi.

“Demi Allah, aku semakin percaya bahwa engkau adalah utusan Allah. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hati yang tiada terdengar oleh kedua telinga ini.” Lanjut sang ayah.“Sampaikanlah ucapanmu itu!” Rasulullah Saw mempersilakan.

Tidak dinyana, ayah pemuda tadi lalu membaca sebuah syair yang ia gubah untuk si pemuda; buah hati dan belahan jiwa ayahnya.

Saat engkau lahir, aku memberimu makanan
saat kau beranjak besar, aku selalu setia menjagamu
Engkau diberi minum atas jerih payahku
Jika kau sakit di malam hari, selama itu mataku tak terpejam
Tak bisa ku tidur karena memikirkan sakitmu
Hingga tubuhku limbung sebab kantuk yang menyerang
Seolah akulah yang sakit, bukan engkau wahai anakku
Aku meneteskan air mata sebab khawatir engkau akan mati
Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah digariskan
Saat engkau beranjak dewasa
Saat dimana telah pantas aku menggantungkan diri padamu
Kau balas diriku dengan kekerasan dan kekasaran
Seakan engkau adalah satu-satunya pemberi kebaikan padaku
Andai saja ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku tak ubahnya seperti seorang jiran yang hidup bertetangga

Usai mendengarkan syair tersebut, Rasulullah Saw meneteskan air mata lalu menghardik sang anak dengan sabdanya, “Anta wa maaluka li abiika. Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)

Pemuda itu tertunduk lesu. Ia merasa malu. Tak sadar akan kealpaan diri selama ini. Ia telah menyia-nyiakan ayahnya yang begitu mencintai dirinya. Ia pun mengikhlaskan harta yang telah diambil ayahnya. Keduanya lalu berpelukan. Saling memaafkan. Kemudian pergi meninggalkan Rasulullah Saw.

Itulah sifat manusia. Suka lupa terhadap jasa orang lain, bahkan kepada orang tua sendiri. Demikian sebabnya, saat ditanya tentang kemana harta diinfakkan, maka Allah Swt menurunkan ayat 215 dari surat Al Baqarah di atas.

Ayat senada juga Allah firmankan,

“Maka berikanlah pada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) pada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 30:38)

“Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya.” (QS. 2:177).

Ada sebuah kisah dari negeri seberang. Seorang ibu tua yang tinggal di kampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses di kota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karir dan dikarunia seorang anak yang pintar.

Merasa kesepian, sang ibu yang tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal di sana demi mengusir rasa kesepian.

Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berurun-rembug dengan istrinya tentang bagaimana menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri menukas, “Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini sebab ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri.”

Sang istri melanjutkan, “Aku pun tak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah..., bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu di sana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik.”

Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Maka dibuatkanlah sebuah saung bambu di belakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, namun sayang mereka menempatkan sang ibu di saung bambu di halaman belakang rumah.
Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa, malah merasa terisolasi di tengah anak cucunya sendiri.

“Ma..., jangan lupa untuk mengirimkan makan 3 kali sehari untuk ibuku ya!” itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat bekerja. Sang istri pun lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, 3 kali sehari makanan diantar oleh pembantu kepada nenek yang berada di dalam saung.

Namun karena kesibukan mereka berdua, rupanya keduanya kerap alpa untuk mengingatkan pembantu demi mengantarkan makanan kepada nenek.
Tadinya 3 kali sehari, terkadang hanya 2 kali atau 1 kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam saung, maka pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi. Maka pembantu pun sungguh lalai untuk mengirimkan makanan.

Allah Swt sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orang tuanya!
Piring kotor masih teronggok di pinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Karena cahaya yang redup didalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah.
Tidak ada lagi makanan yang dikirimkan oleh anaknya. Nenek itu lapar. Hingga membuatnya harus pergi ke warung untuk beli makanan demi sekedar pengganjal lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada lagi alas.

Lalu sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Tiada yang ia temui selain sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, maka batok itu menjadi teman setia nenek untuk makan. Demikianlah kebiasaan makan yang dilakukan nenek. Hingga suatu hari Allah berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
Di suatu pagi, lepas dari pengawasan baby-sitter, seorang bocah lelaki berusia sekitar 5 tahun pergi ke halaman belakang. Sudah lama rupanya ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah... saat ia melihat ada sebuah saung bambu di sana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbukalah. Anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun masuk ke dalamnya....

“Eh.... ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum di bibir. “Nenek ini siapa?” tanya sang bocah polos. “Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” nenek itu mencoba menjelaskan. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak dipisahkan oleh jarak apapun. Keduanya membaur tak ubahnya darah & daging.

Sejak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya meski kedua orang tuanya tak tahu apa yang dilakukan anaknya selama ini. Hingga terbitlah sebuah pertanyaan kecil dari mulut si bocah saat ia melihat sebuah benda aneh di pojok saung.

“Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Sejurus ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah sebuah batok kelapa. “Oh... itu adalah piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya...?!” Nenek menjawab dengan wajah tersenyum. “Iya, nek. Ini bagus sekali” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.

Dalam sebuah liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya ke luar kota oleh papa dan mama. Mereka pergi membawa mobil ke tempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbun, teduh dan indah mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari itu penuh keceriaan bagi mereka bertiga.

“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil di sana. “Ayo nak... lompati selokan itu. Kamu pasti bisa!” teriak keduanya berseru kepada anak mereka.

Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namun malah berujar, “Pa... Ma..., tolong ambilkan benda itu dong!” Papa melihat ke arah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ dalam selokan. “Apa sih, nak? Nggak usah diambil... Itu kotor!” kata si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa.

Namun si anak tetap berkeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya bila mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut.
Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah membau dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat sang anak begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.

Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketiganya masih berada di dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa ingin tahu, sang mama bertanya kepada anaknya, “Mama jadi bingung sama kamu... sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, nak...?!” si anak masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata, “Aku mau kasih kejutan ke mama!”

Dengan kepolosannya ia melanjutkan, “Kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapih, aku akan berikan ini untuk mama sebagai alas untuk makan.”

“Untuk makan...?!” mama bertanya keheranan dengan rasa jijik. “Iya..., untuk makan. Aku lihat nenek di saung belakang rumah makan dengan ini. Papa dan mama yang berikan itu untuk nenek kan?” tanyanya polos.

Keduanya bergidik. Allah Swt sungguh telah menegur mereka berdua lewat lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orang tua sendiri. Hingga harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikan bagi mereka, yaitu batok kelapa.

Apakah anda masih menyia-nyiakan hidup orang tua?!

QIYAMULLAIL DO'A DAN INFAQ

Allah Swt adalah Tuhan alam semesta. Dialah Yang mengatur segala urusan makhluk di bumi maupun di langit. Dialah Tuhan Yang Mampu menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya terletak segala kebaikan.

Beruntunglah manusia yang sungguh menjadi hamba-Nya. Hamba yang dicintai dan diridhai-Nya. Sehingga setiap tindak-tanduk, laku dan pekerjaan yang ia kerjakan akan selalu mendapat pertolongan-Nya.

Allah Swt berfirman . Yang Artinya :

“Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah nafilah (sunnah) hingga Aku jatuh cinta kepadanya. Bila Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar. Aku akan menjadi penglihatan dimana ia menglihat. Aku akan jadi tangan dengannya ia menggenggam. Aku akan menjadi kaki dengannya ia berjalan.” HR. Bukhari.

Demikianlah manusia yang menjadi hamba Allah sekaligus mendapatkan kecintaan-Nya. Hidupnya akan penuh dengan berkah dan bahagia dunia serta akhirat.

Dalam banyak kesempatan, Allah Ta’ala menggambarkan kebiasaan para hamba-Nya yang shalihin. Seperti tergambar pada ayat berikut: yang artinya:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan rezeki yang Kami berikan.” QS. 32:16

Mengambil kesimpulan dari ayat di atas maka ada 3 cara kaum shalihin untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ketiganya adalah: Qiyamullail, Berdoa dan Berinfak!

Ketiga hal ini, bila dijalankan dengan kesungguhan dan istiqamah maka akan mendatangkan kecintaan Allah Swt dan pertolongan-Nya.

Qiyamullail, merupakan sebuah ibadah shalat malam yang kedudukannya adalah satu tingkat dibawah shalat fardhu. Dia begitu utama dan amat dianjurkan. Sebab, pada saat itu Allah Swt turun ke langit dunia hanya untuk menjumpai para hamba-Nya yang shalih.

Rasulullah Saw bersabda,

"Jika telah berlalu pertengahan atau dua pertiga malam, Allah Swt turun ke langit dunia dan berfirman, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta, pasti diberikan permintaannya. Adakah hamba-Ku yang berdo’a, pasti akan terkabulkan. Adakah hamba-Ku yang memohon ampunan, pasti akan diampunkan.’ Peristiwa ini terjadi hingga waktu Fajar datang.” HR. Muslim

Do’a, adalah sebuah hubungan komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Bagai sebuah mantra sulap, maka doa pun akan terkabulkan! Sebagaimana janji Allah Swt dalam ayat-ayat berikut:
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” QS.2:186

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” QS. 40:60

Infak, adalah manifestasi rasa syukur seorang hamba atas anugerah Tuhan yang pernah ia terima. Infak ini pun akan membuat pertolongan Allah Swt segera datang kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya..., Barangsiapa menolong urusan saudaranya (berinfak/bersedekah), maka Allah akan menolong segala urusannya. Barangsiapa yang menyelesaikan sebuah kekalutan seorang muslim, maka dengannya Allah akan melenyapkan kekalutan dirinya pada hari kiamat...” Hadits Muttafaq Alaihi.

Ketiga cara ini merupakan sebuah metode yang sistemik untuk meraih pertolongan Allah Swt. Ia merupakan sebuah entitas utuh dan berwujud satu-kesatuan. Bila rangkaian 3 ibadah ini dilakukan secara bersamaan, maka Insya Allah pertolongan Tuhan pun akan terwujud.

Terdapat dalam kitab hadits Riyadhus Shalihin sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Siang itu seorang petani di kebun kurma meratapi kebunnya. Banyak sudah pohon yang tak menghasilkan disebabkan tanah kering tak punya air berkecukupan.

Tak lama kemudian ia mengambil sikap. Ia angkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya ke arah langit. Ia pasrahkan kondisinya dan mengadukan permasalahannya kepada Tuhan Yang Teramat Kuasa. Lama ia lakukan itu sambil berdiri. Ia yakin bahwa Allah Ta’ala mendengarkan pintanya. Benar saja, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan harapan serta permintaan hamba-Nya. Sejenak berselang, beberapa awan datang beriringan. Bagai ijabah atas do’anya, awan itu bergumul semakin tebal hingga berwarna kehitaman. Sang petani merasa girang. Ia tahu sebentar lagi akan turun hujan.

Namun sayang, seketika ia mendengar suara dari langit yang mengatakan, “Wahai awan, bergeraklah ke kebun si Fulan!” Sejurus kemudian, bergeraklah awan meninggalkan petani yang tengah berdiri di kebunnya.Gusar ia mendapati hal ini. Seolah tak menerima ketentuan, ia pun berlari mengikuti kemana awan itu pergi. Benar saja, akhirnya awan itu berhenti. Awan kemudian menurunkan segala air yang dikandungnya di atas sebuah kebun yang amat rimbun. Lebat pohonnya serta buahnya. Di kebun tersebut, air tidak pernah kekurangan. Si petani berdiri terdiam dengan rasa sesal dan tanda tanya.

Sejenak berselang, kemudian ia dapati ada sesosok pria yang ia duga adalah pemilik kebun beruntung. Di bawah derasnya hujan, si petani menghampiri pemilik kebun lalu mengucapkan salam kepadanya. Salam pun terbalas, dan pembicaraan pun dimulai.

Petani berujar, “Saudaraku, apakah anda bernama si Fulan (ia menyebut sebuah nama yang ia dengar dari suara yang bersumber dari langit)?!” Seolah kaget namanya telah diketahui oleh orang yang belum ia kenal, si pemilik kebun bertanya balik, “Dari mana anda tahu nama saya?” Maka petani pun menceritakan kisahnya. Usai menjelaskan, sang petani bertanya kembali kepada pemilik kebun, “Saudara, apa yang kau lakukan sehingga namamu disebut di langit dan rezekimu bisa datang berlimpah tanpa susah?”

Pemilik kebun menghela nafas. Sejenak ia berpikir, kemudian ia pun berujar, “Saudara..., tidak seorang pun yang mengetahui hal ini dan aku pun enggan memberitahukannya. Sebab engkau telah datang kemari dan mengetahui hal ini, aku pun akan menceritakan sebuah rahasia yang senantiasa aku lakukan.” “Apa itu, saudaraku?!” sang petani mengejar penuh rasa penasaran.

“Ketahuilah..., setiap kali tanah ini memberikan hasil, sepertiganya aku sedekahkan. Sepertiganya lagi aku makan bersama keluarga. Sementara sepertiga sisanya, aku kembalikan ke kebun ini sebagai tambahan modal. Itulah yang aku kerjakan, dan rupanya Allah Ta’ala memberi keberkahan.” pemilik kebun menjelaskan rahasianya.

Subhanllah! Rupanya inilah yang tidak dimiliki oleh si petani. Benar, ia telah berdoa kepada Allah Swt agar hujan membasahi kebunnya, dan Allah Swt pun mengabulkan perkenannya dengan mendatangkan awan. Namun keampuhan ibadah sunnah seperti qiyamul lail dan do’a belum akan terasa dampaknya, sebelum manusia melakukan infak atau sedekah di jalan Allah Swt. Maka awan pun memilih untuk bergerak dan menurunkan airnya bagi orang yang bisa mengerjakan ketiga cara ini sekaligus; Qiyamul Lail, Do’a dan Infak! Semoga saya dan Anda dapat melakukannya bersamaan. Amien.

JALAN MENDAKI PENUH PERJUANGAN

Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih pilihan hidupnya. Dia bebas menentukan jalan yang harus ditempuh. Hanya saja pada setiap pilihan, terdapat tanggung jawab atas pilihannya itu. Allah memberikan kepada manusia dua jalan (najdain) yang dapat dipilih , yaitu jalan kejelekan dan jalan kebaikan (najd al-syar dan najd al-khair). Bila jalan pertama yang ditempuh, masuklah ia ke dalam kesengsaraan, dan bila jalan kedua yang ditempuh, maka masuklah ia ke dalam kebahagiaan.

Meskipun manusia bebas memilih pilihannya, namun Allah menganjurkan agar yang dipilih adalah jalan kebaikan (najd al-khair). Jalan kebaikan itu dilukiskan sebagai jalan mendaki yang sulit (al-‘aqabah) (al-Balad:11). Hal itu karena untuk mendapatkan kebahagiaan, seseorang harus menempuhnya dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, baik dengan tenaga, harta, dan bahkan dengan jiwa.

Bukankah hidup adalah aqidah dan perjuangan (inna al-hayata ‘aqidah wa jihad), sebagaimana yang dikatakan seorang penyair Mesir, Syauqi Bek. Kita terkadang kurang sabar, ingin mengambil jalan pintas, mencari yang enak-enak, tanpa menyadari bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan harus didahului dengan perjuangan berat, menapaki jalan-jalan sulit yang penuh onak dan duri.

Di antara jalan mendaki yang sulit itu adalah (1) memerdekakan budak, (2) memberi makan orang yang sedang dalam kelaparan, (3) memelihara anak yatim, (4) dan memperhatikan nasib fakir miskin.

Budak adalah gambaran dari seorang yang tidak memiliki kebebasan, berada dalam penindasan, terbelenggu dalam tekanan dan himpitan, baik berupa tekanan fisik, jiwa, mental, ekonomi, sosial, atau tekanan kekuasaan. Meskipun sekarang budak sudah tidak ada tapi orang-orang yang berada di dalam tekanan layaknya budak masih sering kita dapatkan di dalam masyarakat. Untuk membebaskan orang-orang yang berada di dalam tekanan sungguh merupakan perkara sulit yang membutuhkan pengorbanan, bukan hanya pengorbanan harta tetapi terkadang jiwa pun ikut terancam. Maka membebaskan budak (orang yang berada dalam tekanan) termasuk jalan mendaki yang sulit (al-‘aqabah).

Memberi makan orang yang kelaparan adalah jalan kebaikan. Ketika ada orang yang sangat membutuhkan, sedang kelaparan, kemudian datang orang yang menolong, mengulurkan tangannya untuk memberi makan. Orang tersebut akan senang dan berterima kasih. Tidak semua orang yang kaya mau melakukan hal itu, karena dengan memberikan sebagian hartanya kepada orang yang memerlukan, dia merasa hartanya akan berkurang, takut habis, dan hawatir jatuh miskin seperti orang yang hendak diberi. Maka kerelaan untuk membantu orang yang kelaparan merupakan sebuah pengorbanan yang sulit.

Anak yatim memang merupakan beban, karena yang tadinya menjadi tanggungan orangtuanya kini menjadi tanggungan kita. Beban itulah bagian dari jalan mendaki yang sulit (al-aqabah) yang akan mendatangkan kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda bahwa dirinya dan orang yang memelihara anak yatim itu nanti di surga ibarat dua jari yang saling berdekatan. Inilah gambaran betapa terhormat orang yang memelihara anak yatim.

Dalam masa krisis seperti sekarang ini, banyak sekali orang yang berada dalam kesulitan. Jumlah orang yang miskin semakin banyak. Banyak orang yang kehilangan rumah tinggal, keluarga, dan harta benda, akibat kerusuhan, dan bencana di beberapa tempat. Hari-hari sulit seperti ini mengundang kita untuk peduli kepada mereka, meskipun kita sendiri juga mendapatkan kesulitan. Bila kita rela berkurban untuk mereka dengan memberikan sebagian harta untuk meringankan beban mereka, walau terasa sulit, maka Allah akan memberi balasan besar.

Kemudian yang terpenting dari apa yang telah diinfaqkan adalah bahwa perbuatan itu dilakukan atas dasar iman yang kuat dalam dada, bukan karena ingin mendapatkan sanjungan dari orang. Perbuatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan demi mendapatkan ridha dari Allah. Amal kebaikan itu dilakukan dalam rangka mengajak orang lain yang sedang berada dalam kesulitan untuk lebih bersabar dan tabah dalam menjalani hidup. Kemudian melakukannya dalam rangka memupuk rasa kasih sayang dan saling tolong menolong. Yang kuat mengasihi yang lemah, yang kaya menyantuni yang miskin, yang pandai mengajari yang bodoh dan seterusnya.


*)Di tulis oleh Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar

Monday, September 22, 2008

MEMBENCI SIKAP LALAI

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu mereka yang lalai dari shalatnya”. Q.S. al-Ma’un/107: 4-5.

Salah satu penyebab kecelakaan kita, sebagaimana disinyalir oleh ayat di atas adalah karena kita lalai dalam melaksanakan shalat. Kita lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat pemenuhan materi dan cenderung untuk memuaskan nafsu sesaat. Kita lebih cenderung mengejar kesenangan duniawi. Namun kita lalai akan kewajiban kita kepada Tuhan, lalai mengerjakan shalat, dan lalai kepada Tuhan.

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan istilah “Sâhûn” (orang-orang yang lalai) dan bukan “Nâsûn” (orang-orang yang lupa). Hal itu tentu karena lalai (sahwân) mempunyai makna yang berbeda dengan lupa (nisyân). Lalai (sahwân) mengandung unsur kesengajaan dan dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa memang perbuatan itu sengaja disia-siakan, tidak dihiraukan, dan sengaja diabaikan. Sedangkan lupa (nisyân) mengandung unsur ketidaksengajaan dan bukan karena suatu kesadaran untuk melaksanakannya. Itulah maka, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa qalam (pena) Allah diangkat (tidak dipergunakan untuk mencatat) amalan seseorang ketika berada dalam tiga kondisi; salah satunya adalah seorang yang lupa hingga ingat kembali. Seorang yang lupa, dia akan bebas dari risiko perbuatannya karena di luar kesadaran dirinya. Hal itu berbeda dengan seorang yang lalai, dia akan diberi sanksi atas keteledorannya itu.

Inti dari teguran Allah terhadap orang yang lalai shalat, sebagaimana yang tersebut dalam ayat di atas, adalah berkenaan dengan tidak ada kesungguhan dalam berbuat. Karena shalat tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sungguh-sungguh penting, maka ia mudah dilalaikan, lantas mendahulukan perbuatan yang lain. Bila terdapat perhatian yang sungguh-sungguh terhadap setiap pekerjaan, maka pekerjaan itu tidak akan terabaikan.

Allah tidak menghendaki kita untuk melakukan suatu pekerjaan dengan asal jadi, tanpa kesungguhan dan ketelitian, yang mengakibatkan kita menjadi lalai. Setiap perbuatan harus didasari niat yang kuat, mempunyai tujuan yang jelas, dan mempunyai pengaruh yang pasti. Sebagaimana kita baca dalam pembukaan shalat: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah”. Tujuan utama dari setiap perbuatan adalah mendapatkan ridha dari Allah dan kemudian perbuatan itu membuahkan natîjah, hasil (pengaruh) berupa kebaikan untuk pribadi dan masyarakat sekitar, atau mengambil dari contoh pengaruh shalat, dapat mencegah dari keji dan mungkar (tanhâ ‘an al-fakhsyâ’ wa al-munkar).

Itulah gambaran sebuah kalimah thayyibah (kalimat yang baik, yang mencakup di dalamnya ucapan dan berbuatan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran, serta semua perbuatan baik) yang dilukiskan oleh Allah sebagai sebuah pohon rindang, akarnya kokoh menghunjam jauh ke dalam tanah dan cabangnya menjulang tinggi ke angkasa. Pohon itu menghasilkan buah yang baik setiap waktu. Hal itu berbeda dengan gambaran kalimah khabîtsah (kalimat yang jelek, yang mencakup ucapan, tindakan dan semua perbuatan yang tidak baik) yang diibaratkan sebagai pohon buruk yang telah tercerabut beserta akar-akarnya dari permukaan bumi, sehingga ia tidak dapat tegak berdiri.

Terjadinya berbagai kekacauan, pertikaian antar keluarga, masyarakat, sampai para elit penguasa, tidak lain adalah merupakan buah (natîjah) dari tindakan-tindakan yang masuk dalam kategori kalimah khabîtsah di atas. Kita sering lalai pada pekerjaan kita. Kurang memahami mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kita telah terjebak dalam kesulitan memilih mana prioritas dan mana yang tidak.

Yang prioritas dilalaikan begitu saja demi mengejar sesuatu yang tidak jelas. Hanya dengan kesungguhan dan perhatian penuh pada setiap perbuatan, kesuksesan itu dapat diraih, baik kesuksesan duniawi maupun kesuksesan ukhrawi. Semoga dengan kesungguhan itu kita dapat terhindar dari kelalaian, mampu memilah antara kebaikan dan kejahatan, dan akhirnya meraih kesuksesan dunia akhirat. Allah berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik”. (Q.S. Fushshilat/41: 34).


*) Ditulis oleh Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar

Sunday, September 21, 2008

ISTIGHFAR MEMBUKA PINTU REZEKI

“Dan hendaklah kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan keutamaan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan…” (QS. Huud {11}:3)

Mohon ampun kepada Allah. Taubat. Istighfar. Itulah ikhtiar kita! Sebuah usaha yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang. Ikhtiar yang menurut kebanyakan manusia, termasuk juga saya hanya akan mendatangkan maghfirah dan ampunan Allah Swt. Namun siapa disangka, saat manusia membutuhkan karunia Allah Yang Maha Kaya…. Saat nafkah terasa berkurang… mungkin saja karena disebabkan kita belum menyambut ‘ampunan’ Allah Swt. Ya, ampunan-Nya! Maka itu dapat mendatangkan karunia Tuhan bagi kita semua!

Teringat kisah baginda Nabi Muhammad Saw. Kali itu, beliau memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 10 Hijriyah. Begitu mendengar Sayyidul Mursalin berniat melaksanakannya, para sahabat yang berada di Madinah pun turut serta untuk mengerjakan haji sebagai rukun Islam yang terakhir. Subhanallah! Rombongan yang ikut dalam ritual haji tersebut mencapai angka lebih dari 120 ribu manusia.

Dengan jumlah rombongan sebanyak itu, atas izin-Nya kota Mekkah yang berada di bawah kekuasaan kafir Quraisy dapat ditaklukkan dengan amat mudahnya dan nyaris tanpa pertumpahan darah. Lebih hebatnya lagi, banyak penduduk Mekkah yang menyatakan masuk ke dalam agama Allah Swt dengan berbondong-bondong.
Namun kala itu, turunlah sebuah surat singkat yang diwahyukan kepada baginda Nabi Saw yang berbunyi:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An Nashr {110}:1-3)

Siapa yang pernah menyangka…? Mungkin tiada terbayang dalam benak kaum muslimin saat itu yang hanya berniat untuk berhaji untuk mendapatkan anugerah yang luar biasa dan tiada terduga; yaitu penaklukan kota Mekkah & para penduduknya masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Ini adalah karunia yang tiada terbilang harganya! Karunia tersebut didapatkan karena istighfar mereka. Karena permohonan ampun mereka atas segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat! Tidakkah kita perhatikan di ayat terakhir pada surat tersebut? Setelah Allah Swt memberitahukan tentang penaklukan kota Mekkah & masuk Islamnya penduduk kota tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi-Nya dan kaum muslimin secara menyeluruh untuk bertasbih juga memohon ampunan (beristighfar) kepada-Nya? Ya, memohon ampunan Allah! Sebelum dan sesudah kesuksesan itu datang. Sebelum dan sesudah prestasi diraih. Meminta ampunan-Nya untuk menjemput karunia-Nya dan mendapatkan kemuliaan serta keutamaan sebagaimana dijanjikan dalam QS. 11:3

Dalam tafsir Al Qurthubi disebukan sebuah riwayat dari Ibnu Shubaih bahwa ada seorang pria datang kepada Al Hasan Al Jadubah mengeluhkan permasalahannya. Maka Al Hasan memberi jawaban, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu ada orang lain yang mengeluhkan rezeki yang sulit, maka Al Hasan menganjurkan, “Beristighfarlah kepada Allah!” Kemudian ada seorang perempuan yang datang kepada Al Hasan mengadukan bahwa dia belum dikaruniai anak. Al Hasan pun memberi jawaban yang sama. Ada lagi orang yang mengeluhkan padanya bahwa kebunnya kurang air, Al Hasan pun masih memberikan jawaban serupa. Maka kami pun bertanya kepada Al Hasan tentang jawaban yang sama itu dalam menghadapi masalah yang beragam. Maka ia menjawab, “Itu semua bukan aku yang jawab. Namun itulah jawaban Allah yang tertuang dalam surat Nuh:10-12.”

Tidakkah Anda melihat dalam riwayat tersebut bahwa istighfar dapat menyelesaikan banyak masalah? Karenanya, jika Anda merasa hidup sulit.. banyak masalah dan rezeki sempit… tidakkah kita mencoba resep Nabi Saw? Sebuah amalan yang amat mudah dan gampang untuk dikerjakan. Tiada lain amalan tersebut adalah istighfar (memohon ampunan) kepada Allah Swt.
Beliau Saw bersabda,

“Siapa yang membiasakan beristighfar (memohon ampun kepada Allah), maka Allah akan memudahkan baginya: 1) Jalan keluar dari setiap kesempitan, 2) Kemudahan dalam setiap kepanikan, 3) Rezeki dari Allah Swt lewat jalan yang tidak pernah terduga.” HR. Abu Daud

Maka, cobalah kebiasaan baik ini dalam hidup Anda yang tersisa. Beristighfar kepada Allah Swt dalam sehari-semalam sebanyak 100 kali. Ucapkanlah.... Astaghfirullahal Azhim... (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), atau dengan ucapan istighfar lain yang Anda ketahui, maka Anda akan dapati bahwa saat ampunan Allah Swt itu sudah Anda rasakan, maka kenikmatan yang diberikan kepada Anda akan semakin berlimpah-limpah dan banyak keutamaan serta keistimewaan yang Dia berikan kepada Anda. Ya, Anda... hamba-Nya yang suka mencari ampunan dari-Nya. Semoga bermanfaat!(asy/asy)

Thursday, September 18, 2008

POSITIVE THINKING

“Kalau saja kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia memberimu rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung. Di pagi hari burung itu pergi (mencari rizki) dengan perut kosong, dan datang pada sore hari dengan perut kenyang”. H.R. al-Tirmidzi.

Sebuah ungkapan yang baik sekali disampaikan oleh Rasulullah SAW. bahwa dalam hal bertawakkal kita disuruh untuk belajar dari perilaku burung. Burung itu dengan riang gembira, berkicau merdu di pagi hari sebelum menunaikan tugasnya mencari nafkah, dengan suatu harapan akan menghasilkan rizki yang cukup dalam kepergiannya nanti. Tidak ada rasa khawatir, bimbang dan sedih walau anak-anak dan dirinya sendiri masih lapar. Pada sore hari, setelah terbang ke sana kemari mencari rizki, akhirnya burung tersebut dapat mengisi perutnya bahkan ada yang dapat dibawa ke rumah untuk anak-anaknya. Demikianlah dilakukan burung setiap hari.

Seekor binatang yang tidak mempunyai akal mampu bekerja dan menghasilkan suatu hasil yang baik karena bekerja dengan penuh tawakkal. Manusia yang mempunyai pikiran untuk menabung, mengeksploitasi, membudidayakan, atau memproduksi justru sering kehilangan kepasrahan dirinya kepada Allah. Bahkan tidak jarang mereka mempunyai negative thingking (suudzan) kepada Allah, ketika usaha kerasnya belum membuahkan hasil yang nyata. Manusia gampang sekali bersedih ketika perutnya kosong, ketika badannya sakit, ketika usahanya gagal, dan ketika jabatannya hilang.

Hal demikian diungkapkan dalam sebuah ayat: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapatkan kebaikan ia amat kikir”. (Q.S. al-Ma’ârij/70: 19-27).

Resep mujarab yang diajarkan oleh Rasulullah agar kita tidak mudah susah adalah dengan melatih diri untuk bertawakkal, yaitu memasrahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita dituntut bekerja keras, berusaha semaksimal mungkin, dan berjuang tanpa henti. Setelah itu kita serahkan segala hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Penolong, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Tawakkal tentu bukanlah berpangku tangan, bermalas-malasan, dan hanya menengadakan tangan meminta-minta.

Kita dituntut untuk selalu berpikiran positif (husnudzan) dalam hidup, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah, dan tidak berkeluh kesah. Bila pikiran positif yang selalu ada dalam diri kita, maka kita tidak mudah berburuk sangka, walau mungkin saja ada suatu musibah yang menimpa kita. Pikiran positif artinya memandang segala yang terjadi pada kita dengan pandangan yang baik. Apabila ada nikmat yang diberikan, maka selalu disyukuri dan apabila ada musibah yang menimpa selalu dihadapi dengan tabah.

Begitulah yang dilakukan para nabi dan para wali Allah. Oleh karena itu ketika siksa bakar diberikan kepada Nabi Ibrahim, dan serangan kaum musyrikin ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW., mereka tetap bertawakkal sambil berucap: Hasbunallâh wa ni’mal wakîl (cukuplah bagi kami Allah sebagai penolong, dan Dia adalah sebaik-baik wakil)”, lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh (tiada daya dan kekuatan kecuali bagi Allah). Kita dianjurkan untuk selalu berdoa dengan do’a tersebut agar kita ditolong Allah di saat-saat paling sulit sekalipun.

Kegagalan kita dalam berusaha dan membangun diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita, jangan-jangan karena watak saling mencurigai yang selalu kita kembangkan. Kita mudah sekali mencurigai orang, berburuk sangka, pada setiap prestasi yang dikembangkan oleh orang lain. Kita mudah sekali menuduh orang lain sebagai sumber masalah, sumber malapetaka dan sumber bencana.

Watak jelek itu bahkan tidak jarang kita tuduhkan kepada diri sendiri dan kepada Pencipta kita. Bila pikiran negatif yang kita kembangkan, maka seorang yang datang dengan tulus memberi makanan, umpamanya, pasti akan dicurigai secara negatif. Kenapa tidak kita kembangkan sikap baik sangka dengan menggunakan pikiran positif dan membuang jauh-jauh semua pikiran negatif. Bukankah Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang selalu curiga kepada orang lain, dia akan mati dengan sia-sia”. Dengan berpikiran positif kita dapat hidup damai, tenteram, dan bahagia. Tapi dengan berpikir negatif kita selalu susah, gelisah, dan sengsara. Wallâhu A’lam.

HAMBA YANG BERSUJUD

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang kami berikan.”Q.S. al-Sajdah/32: 15-16.

Sesungguhnya seluruh makhluk Allah itu tunduk dan takluk kepada kekuasaan Allah. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk Allah lainnya pasti takluk dan tunduk pada aturan-aturan dan sunnah-sunnah yang dibuat-Nya. Bahkan orang yang mencoba melawan Allah bahkan mengingkari kekuasaan-Nya, pada akhirnya takluk dan tunduk pada kekuasaan-Nya.

Dia tidak bisa menolak ketika Allah menghendakinya jatuh bangkrut, menderita sakit, mendapat berbagai musibah, bahkan melawan kematian. Hanya saja ada segolongan manusia yang tunduk kepada Allah karena kepatuhan (thaw’an), dan ada yang tunduk kepada-Nya karena keterpaksaan (karhan).
Allah berfirman: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (Q.S. Ali Imrân/3: 83. Juga firman-Nya: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Q.S. al-Ra’d/12: 15).

Persoalannya kemudian adalah apakah kita tunduk, dan takluk kepada Allah karena kepatuhan, ataukah karena keterpaksaan. Yang pertama itulah hakekat seorang muslim, seorang yang dengan kepatuhannya menyerahkan dirinya hanya kepada Allah. Sedangkan yang kedua, itulah hakekat seorang kafir yang tunduk karena terpaksa, hendak menentang Allah tapi sia-sia belaka.

Di dalam al-Quran, kata-kata ketundukan setidaknya disebutkan dalam lima bentuk kata-kata, yaitu: al-islâm (tunduk pasrah) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 133 kali, al-thâ’ah (tunduk setia) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 129 kali, al-sujûd (tunduk merendah) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 80 kali, al-khusyû’ (tunduk penuh konsentrasi) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 17 kali, dan al-khudhû’ (tunduk patuh) disebutkan dua kali.

Seseorang yang telah menundukkan diri kepada Allah dengan menyerahkan dirinya kepada Allah (yuslim wajhahu ila Allah), adalah orang yang telah berpegang teguh kepada ikatan yang kuat (al-urwah al-wuthqa) (Q.S. Luqman/31: 22). Ikatan itu adalah ikatan aqidah, ikatan iman. Hidupnya diikatkan dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Yang Menciptakan dan Yang Memeliharanya. Sehingga oleh karenanya dia akan memiliki pendirian yang teguh, prinsip yang kuat dalam menjalani roda kehidupan, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai godaan-godaan duniawi yang memesonakan.

Orang yang tunduk sujud itu dialah yang sanggup untuk selalu bertaubat atas dosa-dosa yang pernah dilakukan, selalu berupaya untuk menjalankan hidup dalam pengabdian kepada Allah, pandai bertasbih kepada-Nya, ruku’ dan sujud dilakukan dengan ketulusan tiada henti, menjalankan tugas dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, serta memelihara dan menerapkan Syari’ah Allah (Q.S. al-Taubah/9: 18). Oleh karenanya dialah orang yang mempunyai kemampuan untuk selalu berdzikir kepada Allah dengan membaca ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah, baik al-ayat al-Qur’aniyah (ayat-ayat al-Quran), maupun al-ayat al-kauniyyah (tanda-tanda alam ciptaan-Nya).

Dia selalu mengadakan kontemplasi, perenungan, dan tadabbur, dengan cara khusyu’ dalam shalat, dzikir, dan doa, selalu dalam al-khauf dan raja’ (khawatir amalannya tidak diterima dan mendapat murka dari Allah, serta penuh pengharapan akan ridha dan kasih sayang-Nya). Selain itu seorang muslim yang selalu tunduk bersujud itu berupaya selalu berbagi (al-infaq) dari nikmat, rizki, karunia yang diberikan Allah kepadaNya; maka dia tidak malas untuk menjalankan perintah zakat, anjuran shadaqah, wakaf, dan membagi yang dimiliki.

Semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang terus tunduk patuh karena kesetiaan dan bukan karena terpaksa, dengan terus berusaha membaca tanda kekuasan Allah, selalu mengadakan kontemplasi dan perenungan, serta pandai berbagi kepada sesama. Dengan cara itulah kita menjadi hamba Allah yang dicintai, hambanya yang selalu dalam al-islam, al-tha’ah, al-sujud, al-khusyu’, dan al-khudhu’. Semoga.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


*)Ditulis Oleh Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar(asy/asy)

Tuesday, September 16, 2008

Rahasia Sholat 5 Waktu

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, “Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, ‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’

Lalu Rasullullah SAW bersabda, ‘Silahkan bertanya.’
Berkata orang Yahudi, ‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari rasullullah saw, lalu mereka berkata, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.’

Rasullullah SAW bersabda, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

Sabda Rasullullah saw lagi, ‘Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’

Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.’

Sabda Rasullullah saw seterusnya, ‘Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:

1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah saw, maka mereka berkata, ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah S.W.T mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?’

Sabda Rasullullah saw, ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.
Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi, ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T, dia akan diberikan oleh Allah S.W.T 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
2. Rahmat Allah senantiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
7. Allah S.W.T akan memberinya kemudian di syurga.’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).’

Sedikit peringatan untuk kita semua: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

Mengendalikan Amarah.

Salah satu sifat yang melekat pada setiap manusia adalah marah. Sifat marah adalah luapan kekecewaan, kekesalan dan kebencian yang kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata-kata dan tindakan. Terjadinya sifat marah dapat diakibatkan sakit hati, kekesalan dan rasa kecewa. Contohnya seseorang yang dihina oleh orang lain, maka bisa muncul sifat marah pada orang yang dihina tersebut.

Setiap manusia diperbolehkan marah, selama kemarahan itu wajar dan terkendali. Bukan kemarahan yang berlebihan, tanpa kendali dan tidak proporsional. Betapa banyak manusia tidak mampu mengendalikan marah. Contohnya seorang Ibu yang memerintahkan anaknya untuk belajar, tapi karena anaknya tidak mau mengikuti perintah ibunya tersebut, maka Sang Ibu memarahi anaknya sambil merobek buku pelajaran Sang Anak. Atau kasus seorang suami yang meminta istrinya memasak makanan kesukaan Sang Suami, tapi karena istrinya tidak melakukannya, maka Sang Suami menampar dan menendang Sang Istri, sambil membanting perlengkapan masak.

Pada kasus lain terjadi seorang istri bertengkar dengan suaminya karena cemburu, dalam pertengkaran tersebut sampai terjadi suami melemparkan piring ke arah istrinya, sementara istri melemparkan gelas ke arah suaminya. Bahkan pintu kamar istrinya juga ditendang sampai jebol oleh suaminya.

Atau dalam peristiwa lain, gara-gara ada pertunjukan musik dangdut di sebuah pernikahan, saat berjoget, seorang pengunjung menyenggol pemuda lainnya. Akhirnya terjadi perkelahian massal yang mengakibatkan 5 orang luka parah dengan darah mengucur di sekujur tubuh dan 10 orang luka ringan.

Bahkan dalam peristiwa lain terjadi, gara gara ada seorang pemuda naksir pada seorang pemudi di sebuah kampung. Kemudian pada saat pemuda itu apel ke rumah pemudi, ditegur oleh sekelompok pemuda di kampung tersebut. Akhirnya terjadi perkelahian, dan sang pemuda yang apel itu pulang ke kampungnya memberitahukan kepada pemuda lainnya. Akhirnya terjadilah tawuran massal antar kampung yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia, 17 orang luka-luka dan 10 bangunan rumah dan 2 buah sepeda motor terbakar hangus.

Masih banyak kasus-kasus lain yang terjadi dan akibatnya lebih besar daripada kasus-kasus di atas. Kalau kita telaah kasus-kasus di atas, maka kita melihat bahwa sifat marah yang disebabkan oleh sesuatu yang sebenarnya sederhana, telah ditumpahkan dalam bentuk kemarahan yang berlebihan dan tidak proporsional.

Bentuk berlebih-lebihan dalam kasus di atas misalnya adalah hanya karena anak tidak mau diperintahkan belajar, buku pelajaran anak dirobek-robek. Padahal apa kesalahan buku terhadap orang tua yang marah itu ? Atau kenapa istri yang dimarahi oleh suami, tetapi perlengkapan masak dibanting ? Atau kenapa hanya karena cemburu pada suami, piring dan gelas harus dilemparkan dan pecah ? Kesalahan apa yang telah dibuat oleh perlengkapan masak, piring dan gelas ? Atau kenapa pintu harus ditendang sampai rusak ? Apa salah pintu pada Sang Suami ? Kenapa hanya karena tersenggol orang lain, 15 orang harus terluka ? Atau hanya karena ditegur karena apel, mengapa sejumlah orang harus meninggal dan luka-luka ? Mengapa harus sekian rumah dan motor yang harus terbakar ? Itulah fakta-fakta kemarahan yang tidak terkendali.

Kemarahan yang tidak terkendali hanya menimbulkan penderitaan, rasa kebencian, dendam, jatuhnya sasaran kemarahan yang serampangan dan korban yang jauh lebih besar daripada penyebab kemarahannya.

Allah SWT berfirman yang artinya :
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. (Yaitu) orang yang berinfak baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran : 134)

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
“Bukanlah orang kuat itu yang kuat dalam berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalika hawa nafsunya ketika marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda :

“Barangsiapa menahan amarahnya, maka Allah akan menahan siksa-Nya…” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Imam al-Ghazali menyebutkan tingkatan manusia dikaitkan dengan kemarahannya, dapat dikelompokkan kepada tiga jenis, yaitu :

1. Tafrith, yaitu orang yang tidak memiliki kemarahan sama sekali atau hilang marahnya. Dia serba tak acuh terhadap segala yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan terhadap segala penghinaan, penyelewengan agama sekalipun dia tidak memiliki sifat marah sama sekali.

2. Ifrath. Yaitu orang yang berlebih-lebihan dalam kemarahannya. Orang ini hanya disebabkan oleh satu kesalahan sedikit atau kekecewaan sedikit saja yang disebabkan orang lain, maka dia akan marah tanpa kendali. Kata-katanya kotor, gayanya menyeramkan, tindakannya kasar dan kejam, segala sesuatu akan menjadi sasaran kemarahannya.

3. I’tidal, yaitu orang yang mampu mengendalikan amarah, ketika muncul. Orang ini kalau marah mudah memaafkan. Dan penyebab kemarahannya juga adalah sesuatu yang sudah keterlaluan, termasuk penghinaan agama dan perendahan derajat manusia secara berlebihan.
Imam Al-Ghazali menyebut bahwa orang kelompok ketigalah yang terbaik.

Rasulullah SAW memberiken kiat kepada kita untuk mengendalikan amarah :
Kalau kita sedang berdiri lalu marah, cobalah duduk untuk mengurangi marah.
Kalau kita sudah duduk masih marah juga, cobalah berbaring.
Kalau sudah berbaring, masih marah juga, maka cobalah berwudhu.
Kalau setelah berwudhu masih marah juga, maka kita dianjurkan untuk sholat sunnat mutlak, yang disertai doa agar Allah menurunkan amarah.

Semoga Allah, menjadikan kita manusia yang pandai mengendalikan amarah. Amiin..!

Sunday, September 7, 2008

BULAN BERTABUR CINTA

Terima kasih Tuhan yang telah berkenan kembali mempertemukan kita dengan bulan bertabur cinta. Cinta yang ditawarkan Allah kepada segenap makhluk di bulan Ramadan selayaknya kita sambut dengan suka cita seraya berharap kelak kita menjadi bagian dari golongan yang mendapatkan cinta-Nya.

Detik-detik menjelang satu Ramadan ungkapan cinta bertaburan di seantero dunia menyambut hangat Ramadan ditandai dengan jalinan silaturahim melalui surat, telepon, SMS, email, atau bahkan rangkaian acara-acara khusus menyambut tamu agung ini.

Cinta yang diberikan-Nya bukanlah sesuatu yang abstrak. Setidaknya dengan Ramadan mereka yang terbiasa sibuk sedemikian rupa akan mempercepat aktivitasnya agar segera tiba di rumah untuk menikmati berbuka penuh cinta bersama keluarga.

Juga yang biasanya tak sempat untuk sarapan bersama Allah memfasilitasinya saat makan sahur. Bukankah yang demikian dapat kembali menyuburkan cinta dan menghangatkan keharmonisan keluarga?

Kata Rasul, saling mencintai dan berkasih sayanglah kepada sesama yang di bumi maka seluruh yang di langit akan mencintai dan mengasihimu.

Cinta sosial, Allah berikan juga kesempatan manusia untuk mengaplikasikannya saat-saat bersama melakukan shalat tarawih berjamaah, saling menghantarkan makanan berbuka kepada tetangga, juga tak lupa memberi sedekah dan hidangan berbuka kepada pengemis, fakir miskin, dan anak yatim-piatu.

Bahkan menjelang hari akhir Ramadan wujud cinta juga terealisasi dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk zakat guna melengkapi proses pembersihan diri menuju kesucian.

Infaq, sedekah, dan zakat yang kita keluarkan adalah bukti cinta kita kepada Allah sekaligus menegaskan bahwa kita tak termasuk orang-orang yang cinta harta dunia dan sadar akan adanya sebagian hak orang lain dari apa-apa yang kita miliki.

Thursday, August 28, 2008

Rindu Padamu Ramadhan......

Alhamdulillah,akhirnya kita akan bersua kembali dengan bulan yang penuh Rahmat dan Ampunan ini. Rasa rindu untuk berjumpa dengan bulan ini begitu besar. Marhaban Ya Ramadhan Ya syahrusyiaam ,ya syahrul Mubarak, Ya Syahrul Maghfirah,bulan yang didalamnya terdapat berbagai macam hikmah, dan fungsi bagi kita kaum muslimin. salah satu fungsi bulan Ramadhan adalah bulan audit diri, dan fungsi audit adalah untuk mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan, apa saja yang belum dikerjakan dan apa saja yang harus diperbaiki.

Ada enam hal yang bisa kita audit dan perbaiki di bulan ramadhan ini. Kesempatan ini kita akan mengaudit dengan pendekatan doa Rabbana atinna fidunya hasanah wafil akhirati khasanah wakina adhabannar yaitu Ya Allah berilah hambamu kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah hamba-Mu ini dari api neraka.

Beberapa ulama menyebutkan bahwa dunia yang baik itu indikatornya ada enam yaitu: Punya istri atau suami yang shaleh, anak-anak shaleh dan shalehah, badan sehat, rizki halal, tetangga baik, dan ilmu yang bermanfaat. Mari kita audit kehidupan kita selama setahun di bulan Ramadhan ini:

PERTAMA, punya istri atau suami yang baik; Ada empat kwadran yang bisa kita lihat dalam posisi ini yaitu:
(1) Kwadran pertama adalah suami sangat shaleh dan istri sangat shalehah, dalam Al-Quran bisa kita lihat contohnya yaitu keluarga Imran dan keluarga Rasulullah saw;
(2) Kwadran kedua adalah suami sangat shaleh dan istri tidak shaleh, dalam Al-Quran bisa kita lihat contohnya yaitu keluarga Nabi Nuh as dan keluarga Nabi Lut as;
(3) Kwadran ketiga adalah suami sangat tidak shaleh dan bahkan ngaku tuhan dan istri sangat shalehah, dalam Al-Quran bisa kita lihat yaitu keluarga Firaun dengan istri sangat shalehan yaitu Siti Asyiah. Dan wanita ini merupakan salah satu dari tiga wanita yang dikagumi oleh Rasulullah SAW selain Siti Khatijah dan Siti Fatimah dan (4) Kwadran keempat adalah suami tidak shaleh dan istri juga tidak shalehah, dalam Al-Quran juga bisa kita lihat yaitu keluarga Abu Lahab.

KEDUA, punya anak-anak yang shaleh. Kalau ini yang perlu dipetakan adalah:
(1) Orang tua sangat baik dan anak sangat baik ini adalah rumahku surgaku
(2) Orang tua sangat baik dan anak-anak sangat tidak baik, seningga orang tua tidak bangga anak
(3) Orang tua sangat kurang baik dan anak-anak sangat baik, sehingga orang tua tidak dikagumi oleh anak-anaknnya.
(4) Orang tua sangat tidak baik dan anak-anak juga sangat tidak baik, ini adalah keluarga rumahku nerakaku.

KETIGA, punya badan sehat, Rasulullah saw selama hidupnya sangat sehat. Beliau dari lahir sampai beliau wafat hanya sekali sakit berat yaitu ketika beliau akan meninggal. Sedangkan kita dari lahir sampai mau meninggal sakit terus dan baru sembuh sebentar kemudian meninggal. Walaupun ini bukan meneliti tentang Rasulullah saw, tapi ada penelitian yang sangat menarik bahwa orang yang rajin tahajud jauh lebih sehat dibanding yang jarang atau tidak pernah tahajud, dan orang yang tahajudnya ikhlas jauh lebih sehat dibanding yang tidak ikhlas. Misalnya tahajud hanya karena ada kepetingan tertentu. Kalau dilihat dari penelitan ini, dikaitkan dengan aktivitas Rasulullah saw, memang beliau tidak pernah meninggalkan tahajud dan sangat ikhlas menghadapi kehidupannya. Jadi kalau kita sering sakit-sakitan, salah satu penyebabnya dalah jarang tahajud, kalau ramadhan namanya tarawih dan kurang ikhlas dalam menjalani hidup ini.

KEEMPAT, punya rizki yang halal, semoga kita termasuk orang yang punya rizki halal. Pertanyaannya adalah rizki halal yang selama ini kita dapat sudah pada posisi yang mana? Apakah mendapat rizki halal karena prestatif, mendapat rizki halal karena belas kasihan atau mendapat mendapat rizki halal karena sebel yaitu mendapat rizki halal dengan cara menyebabkan orang lain sebel.

KELIMA, punya tetangga baik. Ketika kita berkeinginan untuk punya tetangga yang baik, maka kita juga harus bertanya, apakah kita termasuk tetangga yang baik bagi orang tetangga dan orang lain. Sebab Rasulullah mengingatkan bukan termasuk orang beriman kalau dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan. Sering-seringlah memberi walaupun hanya kikil kambing. Kalau membuat sayur perbanyak kuahnya dan lain sebagainya.

KEENAM, punya ilmu bermanfaat, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, Ramadhan harus kita jadikan ajang kompetitif keilmuan agar kita tidak ditertawakan zaman dan akhirnya ditinggalkan zaman.

Semoga menyambut bulan Ramadhan ini, kita bisa mengaudit keenam indikator secara jujur dan benar. Sehingga kita akan tahu peta kehidupan kita untuk beraktivitas secara benar dan prestatif setelah Ramadhan nanti; Pertanyannya adalah
(1) Apakah kita sudah menjadi suami atau istri yang baik dan bagi yang belum berkeluarga apakah sudah bersungguh-sungguh menyiapkan diri untuk menjadi calon suami dan istri yang baik;
(2) Apakah kita sudah mempunyai anak-anak yang baik dan apakah kita juga sudah bersungguh-sungguh untuk menjadi anak-anak yang baik bagi orang tua kita;
(3) Apakah kita sudah mempunyai badan yang sehat, kemudian aktivitas apa saja yang harus dilakukan agar badan kita sehat dan tidak menjadi beban banyak orang;
(4) Apakah kita sudah punya rizki yang halal, syukur kalau banyak agar bisa membayarkan hutang orang-orang yang terlilit hutang, memberi bea siswa kepada banyak orang dan membantu keuangan bagi yang memerlukan;
(5) Apakah kita sudah punya tetangga dan teman yang baik. Begitu juga apakah kita termasuk menjadi tetangga dan teman yang baik bagi orang lain.
(6) Apakah kita sudah mempunyai ilmu yang bermanfaat, sehingga punya kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman, agar tidak tergilas oleh zaman

Berani hadapi tantangan kejujuran untuk mengaudit diri dan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki keenam indikator itu. Semoga kita mendapat dunia yang baik, akherat baik dan jauh dari api neraka. Berani hadapi tantangan auditing di bulan ramadhan ini???